Matematika Untuk Daerah Tertinggal PDF Print E-mail
Written by Syailendra   
Sunday, 13 February 2011 02:47

 

(Prof. Yohanes Surya Pendiri Surya College of Education/STKIP Surya)

Pendahuluan

Indonesia adalah sebuah  negara yang sangat majemuk.  Penduduknya yang berjumlah sekitar 240 juta jiwa ini dapat dikelompokan dalam 1128 suku bangsa yang berbicara 750 bahasa. Mereka mendiami lebih dari 17.000 pulau yang tersebar dalam daerah seluas 1,919,440 sq km.

Kualitas pendidikan matematika di Indonesia sangat beragam. Mereka yang tinggal di kota-kota besar umumnya mendapat pendidikan yang cukup baik dibandingkan dengan mereka yang tinggal di daerah-daerah tertinggal (seperti mereka yang tinggal di hutan, di gunung atau di lembah-lembah).  Di daerah-daerah tertinggal anak-anak sangat sulit belajar matematika. Anak usia 17 tahun masih belum mampu menghitung 9 + 5 apalagi untuk menghitung 4 x 5.  Merupakan suatu tantangan besar untuk mengajar matematika di daerah-daerah tertinggal ini.

Melihat kualitas pendidikan matematika yang sangat rendah di daerah-daerah pedalaman ini, saya tertarik untuk mengadakan suatu penelitian tentang bagaimana mengajar matematika pada anak-anak yang tinggal di daerah tertinggal. Untuk itu saya memutuskan memilih satu pulau yang banyak dihuni oleh penduduk yang sangat tertinggal dalam bidang matematika yaitu Papua.

Papua adalah satu pulau di Indonesia bagian timur. Pulau ini adalah pulau yang sangat besar. Sebagian pulau milik Pemerintah New Guinea dan sebagian lagi milik Pemerintah Indonesia. Pulau ini bisa dikatakan sebagai pulau kedua terbesar didunia setelah Pulau Greenland di Eropa.

Bagian Pulau Papua yang milik Indonesia dibagi dalam 2 propinsi (Propinsi Papua dan Propinsi Papua Barat).  Disini tinggal sekitar 2 juta penduduk yang terdiri dari lebih dari 270 suku bangsa. Sebagian penduduk tinggal di kota-kota besar seperti di Jayapura, Merauke dan Sorong. Tetapi yang menarik perhatian saya adalah penduduk-penduduk yang tinggal di daerah-daerah pedalaman. Saya tertarik pada mereka yang tinggal di gunung-gunung dan dihutan-hutan karena pendidikan mereka ini jauh lebih tertinggal dari mereka yang tinggal di kota-kota.

Bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Papua, kami menyelenggarakan penelitian mengajar matematika pada anak-anak pedalaman Papua ini.  Paper ini menceritakan langkah-langkah dan strategi yang kami lakukan untuk melatih dan mengajar anak-anak Papua dalam bidang matematika.

Paper terbagi dalam beberapa bagian. Setelah bagian pendahuluan ini dalam bagian kedua kami akan menceritakan tentang metode dan strategi yang kami lakukan untuk mengajar dan melatih anak-anak Papua ini. Dalam bagian ketiga kami akan menceritakan berbagai hal menarik yang terjadi dilapangan ketika melatih anak-anak Papua ini.  Paper akan diakhiri dengan kesimpulan dan penelitian ke depan.

 

Metode dan Strategi

 

Keadaan daerah pedalaman

Anak-anak di daerah tertinggal  (yang saya sebut anak pedalaman) tidak mengenal bilangan yang besar. Ada suku-suku di Papua hanya mengenal bilangan sampai 3 saja. Lebih dari 3 mereka sebut “banyak”.   Dalam kehidupan mereka, mereka merasa tidak perlu matematika. Kalau mereka mau makan, mereka tinggal kehutan mencari buah-buah atau berburu hewan. Kalau mereka butuh sayuran, mereka tinggal pergi ke kebun. Mereka pikir dalam hidup mereka yang sederhana ini tidak perlu berpikir sampai angka jutaan, miliaran atau triliunan. Mereka tidak mempunyai motivasi yang kuat belajar matematika.

Anak daerah tertinggal juga mempunyai rasa percaya diri yang kurang. Orang tua terlalu sering mengatakan anak-anaknya sebagai anak bodoh.  Jarang sekali orang tua mau memuji anaknya. Sehingga anak-anaknya kurang percaya diri. Ketika mereka dipertemukan dengan anak-anak dari kota, terlihat sekali betapa mindernya mereka. Mereka merasa diri bodoh dan merasa tidak akan mampu belajar matematika.

Di daerah-daerah tertentu untuk kesekolah anak-anak harus berjalan kaki 2-3 jam. Bagi mereka yang tidak mempunyai motivasi kuat untuk belajar, mereka tidak termotivasi untuk berjalan sebegitu jauhnya ke sekolah.

Di daerah pedalaman sulit mendapat guru yang berkualitas. Guru-guru ini sangat lemah dalam konten. Dalam berbagai pelatihan yang kami lakukan di berbagai daerah pedalaman kami menemukan banyak guru-guru sekolah dasar  yang tidak dapat menghitung .  Bahkan yang lebih ekstrim mereka tidak mampu menghitung penjumlahan 3 digit seperti 327 + 348.  Latar belakang para guru ini adalah bukanlah guru matematika. Mereka adalah guru-guru olahraga, guru bahasa, guru agama yang di”paksa” menjadi guru matematika karena tidak adanya guru matematika disana.

Dengan  masalah-masalah besar diatas maka untuk meningkatkan pendidikan matematika disana maka kami melakukan strategi sebagai berikut:

 

  • Peningkatan motivasi
  • Peningkatan rasa percaya diri
  • Pengembangan matematika GASING (Gampang Asyik Menyenangkan)
  • Pelatihan guru  dan implementasi metode GASING di Indonesia.

 

 

Peningkatan motivasi

Anak-anak di daerah tertinggal membutuhkan motivasi untuk keluar dari lingkaran ketidak tahuan akan matematika. Mereka harus diberitahu betapa pentingnya matematika di abad modern ini. Mereka perlu tahu bahwa di luar dari daerah mereka ada yang namanya teknologi yang dapat membantu mereka hidup lebih mudah, lebih nyaman, lebih menyenangkan. Dan teknologi ini memerlukan pengetahuan matematika.

Mereka perlu diberitahu bahwa untuk bertemu dengan teman-temannya mereka tidak perlu naik gunung turun gunung berjam-jam, cukup menggunakan handphone 3G dimana mereka bisa saling melihat sambil berkomunikasi.  Mereka perlu tahu bahwa bulan yang terlihat begitu jauh dapat dicapai dengan teknologi. Mereka perlu tahu bahwa teknologi sedang mengembangkan mobil terbang ataupun pesawat luar angkasa yang akan membawa mereka ke tempat lebih jauh dari bulan.

Beberapa bulan yang lalu saya pergi ke Tolikara dan memberikan seminar pada ratusan penduduk desa dan puluhan kepala suku disana. Mereka ternganga-nganga ketika saya menceritakan tentang teknologi yang sedang berkembang di dunia. Tentang adanya mesin bahasa dimana setiap bangsa nantinya dapat berkomunikasi satu sama lain dengan mudah, tentang transportasi yang dapat membawa mereka ke planet-planet yang jauh, tentang peningkatan hasil perkebunan lewat teknologi dan sebagainya. Dalam seminar itu saya tekankan bahwa perlu sekali mendorong anak-anak mereka untuk belajar matematika agar anak-anak mereka dapat juga menguasai berbagai teknologi ini. Selesai seminar banyak dari mereka meminta saya untuk melatih anak-anak mereka belajar matematika.

Saya sudah lakukan diberbagai tempat sejenis seminar untuk anak-anak pedalaman ini, hasilnya adalah seperti yang kita harapkan yaitu siswa termotivasi untuk belajar matematika.

Mereka yang sudah termotivasi ini  di follow up dengan program berikut yaitu program peningkatan rasa percaya diri. Perlu ditanamkan rasa percaya diri bahwa mereka pasti bisa belajar matematika. Sama seperti rekan-rekan mereka yang ada di pulau Jawa atau daerah-daerah yang sudah berkembang lainnya.

 

Peningkatan rasa percaya diri

Tahun 2003 saya pergi ke Papua, saya menginterview beberapa orang salah satunya adalah Andrey Awoitauw.  Saat itu Andrey masih kelas VI SD, kemampuan matematikanya kurang bagus tetapi ia punya semangat yang tinggi. Saat itu saya bertanya   Ia jawab 1/5!

Andrey kemudian dibawa ke tempat kami tinggal di daerah Karawaci Tangerang yang terletak sekitar 25 km dari Jakarta. Disana kami latih Andrey selama 8 bulan. Amazing, Andrey berhasil meraih medali perak dalam Olimpiade Sains Nasional 2004 dalam bidang matematika. Kemudian Andrey dilatih lagi selama 8 bulan lagi dan hasilnya adalah Andrey berhasil meraih medali emas matematika Olimpiade Sains Nasional 2005

Disamping Andrey kami juga melatih beberapa anak Papua. Septinus George Saa berhasil meraih medali emas dalam lomba The First Step to Nobel Prize in Physics 2004 disusul  Anike Boawire meraih medali emas juga dalam lomba yang sama di tahun 2005. Kemudian Surya Bonay meraih medali emas dalam The First Step to Nobel Prize in Chemistry.

Hasil-hasil ini membangkitkan rasa percaya diri pada anak-anak Papua. Mereka seperti tersadar bahwa kemampuan mereka sebenarnya tidak berbeda dengan siswa-siswa dari daerah-daerah lain yang lebih maju. Mereka kini punya keyakinan bahwa mereka tidak kalah dengan siswa-siswa dari berbagai daerah di Indonesia lainnya.  Percaya diri membuat anak-anak di Papua lebih termotivasi lagi untuk mengejar ketertinggalannya.

Tahun 2009  saya pergi ke beberapa daerah pedalaman di Papua antara lain Tolikara,Jayawijaya (Wamena) dan Lannyjaya.  Disana kami memilih 13 siswa yang terdiri dari 6 siswa kelas 5 SD, 5 siswa kelas 4 SD dan 2 siswa kelas 3 SD.   Mereka dibawa ke Surya Institute di Jakarta dan dilatih matematika, piano, computer serta bahasa Inggris. Dalam waktu 6 bulan dengan menggunakan metode yang baik dan guru yang baik, ternyata anak-anak ini mampu menguasai matematika kelas 1 sampai kelas 6 SD. Tahun 2010 siswa kelas 5 yang naik ke kelas 6 mengikuti ujian nasional dan hasilnya luar biasa, 1 anak mendapat nilai 100 % dan 5 anak yang lain mendapat nilai diatas 92 %. Anak-anak yang lain sedang dipersiapkan untuk mengikuti olimpiade sains nasional bidang matematika.

Tahun 2010  kami membuat gebrakan besar. Kali ini kami menawarkan kepada  beberapa kabupaten di Papua untuk mengirim siswa-siswa yang mereka anggap paling bodoh ke Surya Institute. Kami hendak tunjukan bahwa siswa yang mereka anggap terbodoh ini akan mampu menguasai matematika dalam waktu hanya 6 bulan. Target kami adalah kalau anak-anak yang dianggap terbodoh ini saja mampu menguasai matematika dalam waktu singkat, maka rasa percaya diri dari anak-anak lain anak meningkat. Anak-anak yang merasa lebih baik dari anak-anak yang dianggap terbodoh ini akan lebih yakin bahwa mereka akan mampu juga menguasai matematika untuk selanjutnya menjadi orang-orang yang akan mengembangkan teknologi untuk daerahnya.

Pemerintah daerah kabupaten di Papua ini ternyata sangat tanggap.  Pemerintah daerah Pegunungan Bintang, Jayawijaya, Tolikara, Puncak Jaya, Jayapura, Mappi, Nduga, Raja Ampat, Sorong Selatan, Timika, dan Yahukimo mengirimkan siswa-siswa yang dianggap terbodoh untuk dilatih di Surya Institute.

Anak yang dianggap terbodoh itu ternyata mereka mampu menguasai matematika dengan baik ketika kita memberikannya dengan metode yang baik.  Ada anak yang sebelumnya sulit menjumlahkan 7 + 4 tetapi hanya dalam waktu beberapa jam saja mereka sudah mampu menghitung semua penjumlahan yang hasilnya dibawah 20.  Dalam waktu 1 minggu anak-anak ini mampu menguasai berbagai jenis penjumlahan. Dalam waktu 3 minggu kemudian mereka mampu menghitung segala jenis perkalian sampai perkalian 4 digit dikalikan 4 digit.

Setelah lewat dari 6 bulan, anak-anak ini sekarang sedang menikmati matematika SMA. Sebagian dari mereka sedang disiapkan untuk mengikuti berbagai kejuaraan sains, matematika dan robot baik tingkat local maupun tingkat internasional. Mereka akan tunjukan pada dunia bahwa mereka bisa jadi juara dunia dan ‘tidak ada orang bodoh, yang ada hanya mereka yang belum dapat kesempatan belajar dari guru yang baik dan metode yang benar’.

Pemerintah daerah yang mengetahui perkembangan ini merasa sangat gembira dan sangat termotivasi. Kini mereka berlomba-lomba untuk menerapkan metode ini di daerahnya.  Tahun 2011 mendatang kami akan menerapkan metode ini di berbagai kabupaten di Papua.

Pengembangan Matematika GASING

Matematika GASING yang kami kembangkan adalah suatu pembelajaran matematika dimana siswa belajar matematika secara mudah, asyik dan menyenangkan.

Dikatakan mudah karena metodenya sangat mudah dimengerti oleh siswa. Karena mudahnya maka siswa tidak mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal-soal matematika.  Ketika anak tahu cara menyelesaikan matematika, maka siswa akan merasa asyik berlatih. Mereka anggap mengerjakan soal matematika itu seperti bermain game.  Mereka merasa bahwa belajar matematika itu ternyata menyenangkan sekali.

Selama 13-15  tahun mengembangkan matematika GASING ini kami melihat bahwa pelajaran matematika harus diberikan secara berurutan sebagai berikut:

 

  • Pengenalan bilangan
  • Penjumlahan
  • Perkalian
  • Pengurangan
  • Pembagian
  • Bilangan negatif
  • Aplikasi operasi hitung
  • Pecahan
  • Desimal
  • Geometri (termasuk skala dan simetri)

 

Dalam belajar matematika GASING, langkah-langkah yang harus dilakukan oleh siswa adalah sebagai berikut:

Siswa harus menguasai konsep matematika secara benar. Ini dilakukan lewat eksplorasi dengan menggunakan alat peraga sederhana yang disesuaikan dengan budaya anak tersebut seperti batu, panah, daun ataupun buah-buahan.

Siswa harus menghafalkan beberapa hasil operasi hitung seperti perkalian dengan bilangan 1 sampai 10, penjumlahan bilangan yang hasilnya kurang dari 20, pasangan 10 (bilangan yang kalau dijumlahkan hasilnya 10) dan pasangan 9 (bilangan yang kalau dijumlahkan hasilnya 9).

Siswa perlu belajar konsep bilangan negative. Bilangan negative ini sangat bermanfaat dalam aplikasi maupun dalam menghitung pecahan.

Siswa perlu mengerjakan soal cerita dalam 3 level:

Level pertama, soalnya sangat mudah siswa dapat langsung menjawab soal dengan menggunakan 1 atau 2 operasi hitung yang sejenis.  Misalnya dalam soal penjumlahan “ Budi bermain kelereng dengan Ali dan menang 23 kelereng. Kemudian Budi bermain lagi dengan Andi dan menang 15 kelereng. Jika mula-mula kelereng Budi 19 kelereng, berapa jumlah kelereng Budi sekarang?”

Level kedua, soal dibuat dengan menggabungkan beberapa operasi hitung. Pada soal-soal ini kita juga memasukan  pelajaran etika seperti perlunya membantu orang, perlunya hidup dalam keharmonisan dan sebagainya.  Misalnya “Amir mengendarai sebuah mobil. Ia berangkat dari rumah pukul 07.30 menuju kantornya. Ketika sudah jalan 10 menit, ditengah jalan Amir  melihat seorang anak tertabrak sepeda motor. Amir segera turun dan membawa anak itu ke rumah sakit. Waktu yang dihabiskan Amir untuk membantu anak itu 30 menit. Amir harus tiba di Kantor pukul 08.30. Jarak dari rumah sakit ke kantor sekitar 12.000 meter.  Hitung berapa  meter tiap menitnya Amir harus bergerak agar ia tidak terlambat tiba di Kantor”

Level ketiga, siswa diminta untuk berpikir dan melakukan eksplorasi, disini dibutuhkan thinking out of the box, misalnya “Dengan lima angka 1 buat operasi-operasi  yang hasilnya 13”.

Catatan: diatas kami katakan pentingnya bilangan negative dalam menyelesaikan soal-soal aplikasi dan pecahan. Berikut ini adalah beberapa contoh pemanfaatan bilangan negative.

Tony mengendarai mobil dari kota Jakarta pukul 08.40 dan tiba di kota Surabaya pukul 16.20. Hitung berapa lama Tony  mengendarai mobil?  Dengan konsep bilangan negative kita akan peroleh hasilnya adalah 8 jam – 20 menit = 7 jam 40 menit.

Berapa   . Dalam soal ini kita lihat bahwa untuk operasi bilangan bulat menghasilkan 6-4 =2. Sedangkan operasi bilangan pecahannya adalah   .  Hasilnya adalah . Terlihat bahwa perhitungan jadi lebih sederhana jika menggunakan konsep bilangan negative.

Dalam mengajar matematika GASING perlu diperhatikan bahwa dalam pikiran guru tidak boleh terpikir siswa yang sedang dilatihnya ini adalah siswa yang bodoh. Setiap guru harus punya keyakinan bahwa tidak ada anak bodoh di dunia ini.  Guru juga harus punya passion dalam mengajar anak-anak yang dikatakan “bodoh” ini.

 

Pelatihan Guru dan Implementasi matematika GASING di Indonesia

Untuk menyebarluaskan metode matematika GASING ini, kita perlu melatih guru-guru. Langkah-langkah yang kami akan lakukan dalam penyebarluasan metode ini di Indonesia adalah sebagai berikut:

Tiap kabupaten di Papua mengirimkan 10 guru terbaiknya + 2 siswa yang dianggap terbodoh di kabupatennya  untuk dilatih di Jakarta

Guru ini akan dilatih selama 6 bulan sambil praktek dengan 2 siswa yang dibawanya.

Setelah pelatihan, guru kembali  ke daerahnya. Di daerahnya tiap guru melatih 10 guru yang lain selama 6 bulan persis seperti kami melatih guru tersebut.

Tiap guru wajib melatih masing-masing 10 murid.

Lewat proses ini maka dalam waktu 3-5 tahun seluruh murid SD/SMP di daerah tersebut akan mampu menguasai matematika kelas 1 sampai kelas 6 SD.

Guru-guru Papua yang sudah dilatih ini nantinya bisa melatih guru-guru dari daerah tertinggal lainnya sehingga metode ini dapat tersebar secara cepat di seluruh Indonesia, khususnya untuk daerah-daerah tertinggal.  Terjadilah percepatan pembangunan pendidikan  di daerah tertinggal.

 

 

Berbagai pengalaman selama mengajar matematika Gasing

Janus adalah siswa dari kabupaten Yahukimo, ia berusia 16 tahun tetapi masih kelas IV SD. Ia tidak pernah mendapat pelajaran matematika yang baik di tempatnya. Ini terlihat pada waktu ia datang ke tempat pelatihan kami, ia tidak dapat menghitung 3+ 2.

Awal pelatihan kami berikan konsep bilangan sampai 100, dilanjutkan dengan konsep penjumlahan. Yanus mengalami kesulitan dalam menjumlahkan 9 + 7.  Untuk membuatnya mengerti, kami menggunakan alat peraga yang berkaitan dengan budaya Papua  yaitu berupa daun atau  tabung panah dan anak panah.  Tabung panah mempunyai tempat  untuk 10 anak panah dan anak panah bernilai 1. Pertama kami tunjukan tabung anak panah dengan 9 anak panah. Kemudian kami ambil 7 anak panah. Satu anak panah kami pindahkan kedalam tabung. Di dalam tabung ada 10 anak panah dan 6 anak panah. Jumlahnya adalah 16. Pendekatan budaya membuat Yanus lebih memahami matematika secara lebih mudah. Cara lain adalah dengan menggunakan daun.

Nando anak SD kelas 5 dari Puncak Jaya, ia sulit sekali menghafalkan penjumlahan bilangan yang hasilnya 9. Ia tidak bisa mengingat 9 = 8 +1, 9 = 7 +2 , 9 = 6 + 3, 9 = 5 + 4.  Nando sangat senang main games. Kami manfaatkan sebuah games semacam games luxor, tetapi bola-bola yang bergerak bertuliskan angka-angka. Misalkan bola yang bergerak bertuliskan angka 7, ia harus menembak bola itu dengan bola dengan angka 2. Dengan cara  ini Nado merasa senang dan tanpa sadar belajar menghafalkan penjumlahan bilangan yang hasilnya 9 ini.  Menghafal penjumlahan ini sangat penting untuk menghafalkan perkalian 9.

Ros anak dari Kabupaten Jayapura, ia lebih senang menyanyi maka kami mengajarkan perkalian 3 dengan lagu “twinkle-twinkle little star” tetapi kata-katanya diganti dengan hasil perkalian 3. Ternyata Ros senang dan ia dapat mudah menghafalkan perkalian 1-10 yang semula sangat sulit untuk diingat.

Dieterina termasuk anak yang cerdas. Kemampuan mengingatnya cukup baik. Untuk menghitung 24 x 38 kita ajarkan teknik menghitung diluar kepala. Dimulai dengan mengalikan puluhan dengan satuan (8x2) dan (4x3). Jumlahkan hasilnya 16 + 12 = 28. Disini kita punya 2 ratusan dan 8 puluhan.  Kemudian kalikan puluhan dengan puluhan 2 x 3 = 6. Disini kita punya 6 ratusan. Jumlahkan ratusan ini dengan ratusan sebelumnya, kita punya 6 + 2 = 8 ratusan. Selanjutnya kalikan satuan dengan satuan 4 x 8 = 32. Disini kita punya 3 puluhan dan 2 satuan. Sehingga totalnya kita punya 8 ratusan 11 puluhan dan 2 satuan. Kita sederhanakan lagi kita peroleh 9 ratusan 1 puluhan dan 2 satuan. Jadi 24 x 38 = 912. Cara ini sangat disukai oleh anak-anak yang cukup cerdas. Mereka mampu melakukan perkalian dengan lebih cepat dan semua dilakukan diluar kepala tanpa menulis.

 

Anita mengalami kesulitan dalam menghitung pembagian bersisa 41:8 = ?.  Setelah kami analisa ternyata ia kurang dalam latihan perkalian. Ia mengerjakan soal perkalian hanya separuh jumlah soal-soal yang seharusnya dikerjakan.  Ia juga tidak mengerjakan banyak soal pengurangan. Setelah meminta ia mengerjakan soal-soal perkalian dan pengurangan lebih banyak, ternyata anak itu sekarang demikian mudah mendapatkan 41:8 = 5 sisa 1. Kami menemukan bahwa ada proses self organizing di otak anak yang memampukan ia untuk melakukan pembagian bersisa setelah ia mengerjakan banyak soal perkalian dan pengurangan.

Kesimpulan

Dari penelitian kami melatih matematika di daerah pedalaman kami dapat menarik beberapa kesimpulan antara lain:

Tidak ada orang bodoh di dunia ini. Yang ada adalah orang yang belum mendapat kesempatan belajar.

Semua orang bisa belajar matematika dari yang muda sampai yang tua, dari yang dikatakan paling “bodoh” sampai yang dikatakan paling “pintar”.

Matematika dapat dikuasai orang dengan mudah kalau diajarkan dengan metode yang Gampang dan dilakukan secara asyik dan menyenangkan.

Dalam mengajar matematika perlu passion (kesabaran, ketekunan) dan kreativitas. Perlu dicarikan cara-cara baru yang asyik dan mudah untuk mengajar berbagai jenis siswa dengan berbagai karakter.

Kedepannya kami akan mengadakan penelitian dan implemetasi metode GASING ini diberbagai daerah lain  di Indonesia maupun diberbagai daerah di dunia yang membutuhkan matematika yang mudah, asyik dan menyenangkan ini.

Mudah-mudahan lewat matematika GASING ini mereka yang sebelumnya dianggap “bodoh” bisa tampil lebih percaya diri dan ikut berpartisipasi dalam membangun dunia ini kearah yang lebih baik.

 

Last Updated on Thursday, 17 February 2011 04:02